KELAS IV SDN 2 PULUBALA Oleh: Ruwaidah Idrus Aliyu, M.Pd I. PENDAHULUAN Literasi membaca merupakan fondasi utama dalam proses pembelajaran di sekolah dasar. Namun demikian, berdasarkan hasil rapor pendidikan serta hasil try out yang dilaksanakan dalam rangka menghadapi Tes Kompetensi (TKA), menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa masih berada pada tingkat yang memprihatinkan, khususnya pada aspek pemahaman bacaan. Selama ini, pelaksanaan asesmen literasi di sekolah cenderung tidak dilakukan secara masif, terstruktur, dan berkelanjutan. Praktik yang terjadi lebih bersifat reaktif dan insidental, yaitu baru dilaksanakan ketika siswa akan menghadapi ujian seperti TKA. Kondisi ini menyebabkan: - Tidak adanya deteksi dini terhadap kemampuan literasi siswa - Terlambatnya intervensi terhadap siswa yang mengalami kesulitan membaca - Terjadinya akumulasi ketertinggalan belajar dari kelas rendah ke kelas tinggi 📌 Dengan kata lain, asesmen literasi selama ini masih bersifat “kagetan”, bukan s...
"GERAKAN JANTUNG 6 PUL" 🟩 LATAR BELAKANG Selama ini, praktik evaluasi pembelajaran di sekolah dasar masih cenderung berorientasi pada hasil akhir, khususnya pada kelas 5 dan kelas 6 melalui berbagai bentuk asesmen seperti Tes Kompetensi Akademik (TKA) maupun indikator dalam raport pendidikan. Pendekatan ini secara tidak langsung menempatkan proses pemantauan kemampuan dasar siswa pada tahap yang terlambat. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa baru teridentifikasi mengalami kesulitan literasi dan numerasi ketika telah berada di kelas tinggi. Pada titik tersebut, sekolah biasanya melakukan berbagai upaya seperti pengayaan, pembimbingan intensif, maupun latihan soal secara masif. Namun, pendekatan ini seringkali bersifat reaktif dan tidak menyentuh akar permasalahan, karena dilakukan ketika fondasi belajar siswa sudah terlanjur lemah. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa deteksi kesulitan belajar tidak dilakukan sejak awal? Padahal, dalam struktur...