"GERAKAN JANTUNG 6 PUL"
🟩 LATAR BELAKANG
Selama ini, praktik evaluasi pembelajaran di sekolah dasar masih cenderung berorientasi pada hasil akhir, khususnya pada kelas 5 dan kelas 6 melalui berbagai bentuk asesmen seperti Tes Kompetensi Akademik (TKA) maupun indikator dalam raport pendidikan. Pendekatan ini secara tidak langsung menempatkan proses pemantauan kemampuan dasar siswa pada tahap yang terlambat.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa baru teridentifikasi mengalami kesulitan literasi dan numerasi ketika telah berada di kelas tinggi. Pada titik tersebut, sekolah biasanya melakukan berbagai upaya seperti pengayaan, pembimbingan intensif, maupun latihan soal secara masif. Namun, pendekatan ini seringkali bersifat reaktif dan tidak menyentuh akar permasalahan, karena dilakukan ketika fondasi belajar siswa sudah terlanjur lemah.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar:
mengapa deteksi kesulitan belajar tidak dilakukan sejak awal?
Padahal, dalam struktur kurikulum berbasis fase, kelas 2 merupakan titik akhir Fase A yang menentukan kesiapan siswa untuk memasuki Fase B (kelas 3), sementara kelas 4 merupakan titik kunci dalam Fase B sebelum siswa melanjutkan ke Fase C (kelas 5). Artinya, pada dua jenjang inilah seharusnya dilakukan pengukuran yang serius untuk memastikan bahwa setiap siswa telah mencapai kompetensi minimum yang dipersyaratkan.
Sayangnya, hingga saat ini kebijakan asesmen yang sistematis dan terprogram untuk kelas 2 dan kelas 4 belum berjalan secara masif, baik di tingkat kabupaten maupun nasional. Asesmen masih bersifat parsial, tidak terstandar, dan belum menjadi budaya dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
🟦 URGENSI PROGRAM
Gerakan “Jangan Tunggu Kelas 6” hadir sebagai respon atas kondisi tersebut. Program ini menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dicapai melalui intervensi di akhir, melainkan harus dimulai dari deteksi dini yang terstruktur dan berkelanjutan.
Pelaksanaan uji kompetensi literasi dan numerasi di kelas 2 dan kelas 4 menjadi sangat penting karena:
1. Menjamin Fondasi Belajar Siswa
Literasi dan numerasi merupakan kemampuan dasar yang menjadi prasyarat bagi seluruh proses pembelajaran. Kegagalan pada tahap ini akan berdampak pada seluruh mata pelajaran.
2. Mencegah Keterlambatan Intervensi
Dengan asesmen dini, sekolah dapat segera mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan dan memberikan pendampingan sebelum masalah menjadi lebih kompleks.
3. Mendukung Transisi Antar Fase
Kelas 2 dan kelas 4 merupakan titik krusial dalam sistem fase pembelajaran. Tanpa pengukuran yang jelas, perpindahan fase berisiko tidak didasarkan pada kesiapan kompetensi.
4. Mengubah Pola Pikir Pendidikan
Dari yang semula berorientasi pada hasil akhir menjadi berbasis proses dan perkembangan siswa.
🟨 PERMASALAHAN YANG DIHADAPI
Beberapa permasalahan utama yang selama ini terjadi antara lain:
Asesmen lebih difokuskan pada kelas akhir
Deteksi kemampuan siswa tidak dilakukan secara dini
Guru belum terbiasa menggunakan data sebagai dasar pembelajaran
Intervensi dilakukan ketika sudah terlambat
Belum ada program terstruktur dari tingkat kabupaten
🟥 GAGASAN SOLUSI
Sebagai bentuk tanggung jawab profesional dan respon atas kegelisahan yang selama ini dirasakan di lapangan, pengawas sekolah Waida Idrus Aliyu menggagas program:
> Gerakan Deteksi Dini Literasi dan Numerasi di Kelas 2 dan 4
Program ini menekankan pada:
Pelaksanaan asesmen secara berkala
Pemetaan kemampuan siswa berbasis data
Intervensi terarah sesuai kebutuhan siswa
Monitoring berkelanjutan oleh pengawas
🟪 TUJUAN PROGRAM
1. Mengidentifikasi kemampuan literasi dan numerasi siswa sejak dini
2. Menjamin kesiapan siswa dalam transisi fase pembelajaran
3. Meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis data
4. Mengurangi kesenjangan kemampuan siswa
🟧 PENUTUP
Program ini bukan sekadar inovasi, tetapi merupakan kebutuhan mendesak dalam upaya memperbaiki sistem pendidikan dasar. Jika selama ini kita menunggu hingga kelas 6 untuk mengetahui kondisi siswa, maka sudah saatnya pendekatan tersebut diubah.
> Jangan tunggu kelas 6. Mulailah dari kelas 2 dan kelas 4. Karena di sanalah masa depan pembelajaran ditentukan.
Oleh. Rumah Idrus Aliyu, M.Pd
Pengawas di masjid Kabupaten Gorontalo

Komentar
Posting Komentar